Senin, 20 April 2015

Early Morning Converstation

Subuh tadi, saya (terpaksa) terbangun karena ada seseorang yang minta ketemu urgent via Skype. Ya karena dia tinggal di belahan Negeri lain yang perbedaan waktunya cukup menganggu, jadilah berimbas pada komunikasi kami yang sering penuh derita begini. Terus terang, percakapan subuh tadi paling mengganggu banget dari ratusan percakapan subuh lainnya yang pernah kami lalui. 
Kira-kira, kalau dirangkum begini lah percakapan kami : (sudah diperhalus dan diaktifin pendeteksi umpatan atau makian yang senonoh kok)
A : Jadi, apa kabar si cowok komet?
B : Komet? Aku bukan fans coboy junior loh, tapi smashblast.
A : Kabar perkembangan pendekatan kamu sama si ******* (sebut nama langsung dengan nada emosi)
B : Kamu minta Skype subuh-subuh untuk hal yang enggak se-urgent kayak begini? Balikkin lah waktu tidurku yang sekarang mahal dan susah luar biasa!! (balas dengan nada darting)
A : Kalau kamu jawabnya dengan desperate begitu berarti kamu udah megap-megap. Nyerah ya? Cupu ih. Baru juga bentar. Perjuangan kamu belum kelihatan apa-apa di mata dia. Kebiasaan jelek kamu tuh gitu. Belum sampai tempat tujuan, kamu milik muter balik karena merasa capek dan terlalu jauh.
B : Aku memang enggak masalah kalau aku berjuang duluan. Tapi aku butuh kepastian dan prospek. Cewek itu sama kepastian nggak bisa dipisahkan.
A : Itulah dosa cewek yang paling tolol menurutku! Dan kamu tuh bukan cewek yang menurutku dengan tololnya menyerah karena kepastian sialan atau apalah itu. Aku kenal kamu bukan pas tadi pagi di pinggir jalan loh. Aku tahu banget ketika kamu udah menemukan hal yang super duper penting, apapun itu akan kamu korbankan dan kasih tanpa batas waktu. Hanya masalahnya kamu belum ketemu orang yang menghargai usaha kamu itu. Menghargai bukannya juga bakalan balik membalas perasaan kamu. Tapi lebih ke menerima dengan sikap manis. Berterima kasih. Yang terpenting sih, enggak akan memanfaatkan segala perjuangan kamu itu.
B : Dari pengamatan teleskop canggih kamu dari Negeri di seberang samudra itu, dia pantas ya untuk aku perjuangin?
A : Aku belum ketemu orangnya, ya mana aku tahu sih!
B : Cih. Alasan basi.
A : Pantas atau enggak, itu semua balik ke dirimu sendiri loh. Kamu yang menjalankan. Aku cuma mau mengingatkan kamu untuk tetap semangat berjuang. Balik jadi kamu yang dulu, yang begitu semangat ketika udah ketemu hal-hal yang bikin kamu mendadak semangat, dan lupa daratan. Kamu tuh cewek yang aku kenal dengan semangat seperti itu.
B : Really?
A : *menghela napas dengan nggak sabar* yang kulihat sekarang kamu tuh masih setengah berjuang! Kalau memang kamu sayang sama dia, tempuh lah perjuangan apapun itu. Kamu masih mengatur-atur dan mengkalkulasi hal-hal apa yang bakal kamu kasih buat dia. Ya, waktu kamu lah, konsentrasi kamu, fokus kamu. Aku kenal kamu yang bisa mengatur semuanya secara seimbang. Mengatur prioritas kamu dengan baik.
B : Heh, dia tuh belum jadi pacar aku! Kami baru kenal dan akrab juga—
A : *menyela pembicaraan* kamu itu tipikal cewek yang susah melabelkan “sahabat” atau “temen” sama cowok. Butuh waktu nyaris setahun untuk kamu kasih label itu. Di luar itu cuma ada gebetan aja kan?
B : Iya sih….
A : Sekarang gini deh, kamu mau atau enggak berjuang sampai berdarah-darah buat dia? Menerima resiko apapun itu, bahkan yang paling terburuk sekalipun? Semua orang punya kesempatan dan porsi yang sama untuk perjuangin cintanya. Enggak masalah kalau cewek jalan duluan. Selama si cowok merasa baik-baik dan santai aja dengan itu. Kecuali kasusnya cowok itu udah antipati duluan kalau kamu mulai deketin dia. Ya kamu sendiri yang tahu batasan pendekatan itu gimana kan?
B : Iya sih…..
A : Jangan ngeluh kalau kamu merasa belum sampai tujuan akhir loh. Itulah seninya berjuang. Hasilnya indah atau enggak, jadikan itu pelajaran. Latihlah hati kamu dari hal-hal paling besar supaya bikin kamu enggak mudah sakit atau baper ya.
A : Iya deh iya.

Lalu setelah itu sambungan Skype terputus karena saya udah nggak konsen lagi diajak ngobrol. Besoknya, saya dikirimin voice note yang isinya omelan dan umpatan karena main ninggalin gitu aja di Skype hihihihi

Makanya percakapan kali ini paling mengganggu karena menyinggung masalah yang bikin saya sentimentil banget belakangan ini. Bikin baper tiap hari. Si cowok komet memang topik percakapan yang saya hindari sih. Tapi entah kenapa partner Skype saya ini hobi banget menyinggung terus. Padahal udah seringkali saya ngasih warning keras untuk nggak buka percakapan menyangkut ini. Tapi namanya keras hati dan rada sialan, teteeep aja dibahas. Ya udah akhirnya saya yang sering ketampar gara-gara saran dia yang selalu berhasil kena sasaran.
Meski begitu, saya ketolong banget dengan percakapan kami tadi pagi. Karena kalau enggak, saya masih loyo dan merasa lelah aja. Memang cuma dia yang mengerti banget jalan pikiran saya :")

Kamis, 02 April 2015

That’s What Friendship For



Saya beneran nggak tahu kenapa di siang yang mendung ini, mendadak merasa super mellow. Atau mungkin memang saya adalah orang yang baper (mengikuti istilah abege sekarang. Iya deh iya emang bukan abege lagi). Atau mungkin karena pengaruh PMS yang tidak kunjung kelar dan sungguh menyiksa sekali.

Entahlah… 

Gejala mellow attack  ini sebetulnya sudah muncul dari semalam. Cuma tidak begitu saya indahkan lantaran merasa kondisi badan letih luar biasa. Ada beberapa kejadian deh yang bikin saya nyaris blackout kemarin. Thank God it didn’t happen yet.  Saya pulang ke rumah dengan kondisi badan yang masih segar-bugar, walau sedikit lemas dan lelah.

Malam hari tuh bagi saya adalah waktu yang semestinya produktif untuk melanjutkan novel misalnya. Yah karena malam hari mudah bagi saya untuk mentransfer rasa menjadi tulisan. Masalahnya adalah ketika hati saya sedang sakit dan kesulitan untuk menuangkannya dalam tulisan. Jadilah ujung-ujungnya saya galau akut level Taylor Swift putus cinta sama Jake Gylenhaal (maaf garing).

Untunglah saya punya seorang sahabat pelipur lara yang mengerti banget luar-dalam saya. Namanya Inasshabihah. Meski kami terpisahkan jarak dan kesibukan masing-masing, tapi dia adalah orang yang selalu dan selalu saya cari ketika hati saya patah-patah. Mungkin dia sebetulnya adalah kakak perempuan yang selama ini saya inginkan dan dikirimkan Tuhan pada saya dengan cara ajaib. Kami nggak perlu ketemu atau bertelepon setiap waktu. Pertemuan sesekali saja langsung banyak memberikan dampak buat saya.

Dan ya, kemarin malam saya menelepon dia setelah sebelumnya dia nyaris bikin saya mewek dengan nasihat di voice note-nya.  Dia nggak mengatakan kata-kata penghiburan yang manis. Hanya beberapa potong kalimat sendu dengan sebuah pengertian. Mengatakan pada saya untuk tidak pantang menyerah karena masih dalam tahap belajar. Wajar apabila saya tersandung kesalahan dan dosa yang sama untuk kedua kalinya.

Akhirnya… secara perlahan saya mulai menepikan perasaan galau tersebut dan berhenti mengutuki kebodohan diri sendiri.  Terus nggak disangka-sangka nih, dalam hitungan beberapa menit kemudian saya bisa  tertawa berkali-kali karena gantian Inas yang melakukan pengakuan dosa pada saya. Mungkin ini lucu atau ngenes, karena rupanya kami berdua jatuh di dosa dan situasi yang SERUPA!!

Mungkin begitulah sahabat. Dia adalah orang yang menemanimu ketika kamu merasa jadi cewek bodoh garis miring tolol karena tersandung di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Saya sungguh bersyukur bisa mengenal Inas dan memberikan label sahabat padanya. Semoga persahabatan kami terus langgeng meski dimakan zaman.

Senin, 23 Maret 2015

Kisah si Nona Perasa - Bagian Kedua



Nona Perasa tahu kalau penantian itu tidak mudah.
Ada kerelaan hati yang harus dibayar
Serta kenyataan kalau kelak,
Dia tidak pernah muncul untuk menghentikan penantian.
Oh, harus bagaimanakah Nona Perasa melanjutkannya?
Tapi....
Senyum hangat dan lelucon konyolnya
Kerlingan jail serta semburat matanya
Adalah beberapa hal yang sering menghantarkan rindu
Serta sebuah pertanda bagi Nona Perasa,
Untuk tetap menunggu dia.
Berapakah lama lagi waktunya? Apakah aku harus berhenti menunggunya? – tanya si Nona Perasa
Ah, kali ini Nona Perasa tidak menyadari ya?
Bahwa sekarang, hidupnya mulai muncul berbagai emosi.
Dan, tentu saja, Nona Perasa,
Harus menunggu dia untuk membentuk dunia menjadi bulat.

22.10 ketika aku memikirkanmu

Sabtu, 14 Maret 2015

Kisah si Nona Perasa - Bagian Pertama



Ini kisah tentang Nona Perasa...


Yang merasa hidupnya hambar, tanpa rasa.
 Yang sering meratapi warna-warni kehidupan tanpa berminat mencicipinya
Jangan berprasangka buruk dulu.
Nona perasa hanya merasa dunianya berbentuk kotak.
Datar. Tanpa irama. Dan tidak punya ritme serta putaran.
Sampai suatu ketika, Nona Perasa menemukan dia...
Seseorang yang bukan dari masa lalu,
Tapi juga bukan hadiah dari masa depan
Hanya seseorang dengan celoteh cerdas yang menawarkan masa kini
Seseorang yang tampil sederhana tanpa tuntutan.
Seketika, dia berjalan begitu saja melintasi dunia si nona perasa,
Sangat cepat, melebihi kecepatan cahaya manapun
Tapi meninggalkan serpihan kenangan
Dan terkadang, ada air mata yang bersembunyi di belakangnya.
Apakah rasa ini? Siapakah kamu? Apa maumu? – tanya si Nona Perasa setiap waktu
Tentu saja Nona Perasa tidak menemukan jawaban
Karena pertanyaan itu, hilang bersamaan dengan sendunya...

21.38, ketika aku merindukanmu

Rabu, 15 Oktober 2014

Percakpan Manis dengan Andromeda

Di sebuah kedai kopi yang terletak dekat perempatan sebuah Mall, seorang cewek tengah duduk termenung. Bibirnya mengerucut karena sebal begitu dia melihat jam di ponselnya. Padahal cewek itu sudah mendapatkan meja yang nyaman. Jauh dari asap-asap rokok yang berasal dari smoking area dalam kafe itu. Suhu AC dalam kafe itu juga tepat menyorot di tempatnya duduk. Yang menandakan cewek itu tak perlu khawatir kalau-kalau sapuan bedak tabur atau blush-onnya bakal luntur.
Tidak, cewek itu bukan sedang berkencan apalagi menunggu pacarnya. Dia hanya sedang menunggu seseorang. Cukup sulit membuat janji waktu bertemu dengan orang ini. Sudah tahu sulit, kenapa orang ini malah dengan seenak jidat membuang-buang 28 menit waktunya?
Ah, sudahhlah. batin cewek itu dengan napas memburu. Posisinya sekarang, cewek itu yang sangat membutuhkan orang yang sedang ditunggunya itu.

Tepat ketika cewek itu menyelesaikan 1 ronde permainan monopoli dalam ponselnya, pintu kaca kafe itu terbuka. Cewek itu tidak menoleh. Sebelumnya, dia sudah menoleh berkali-kali ketika pintu cafe itu terbuka. Dan hanya menemukan orang-orang asing dan langsung membuatnya kecewa karena bukan kemunculan orang yang sedang ditunggunya.


"Maaf ya bikin lo kelamaan nunggu," seru seseorang, cowok tepatnya, dengan nada suara lembut.
Seketika cewek itu menengadahkan kepala sambil merapikan poninya. Memberenggut bingung pada cowok asing yang tiba-tiba menarik kursi di depannya. Cowok berpakaian t-shirt hitam yang samar-samar mencetak dada bidangnya, menyunggingkan senyum padanya.
"Gue punya penjelasan. Boleh gue pesan minuman dulu karena sebelumnya gue udah lari-lari sampai kafe ini?"
"Oh, iya. silahkan, silahkan," seru cewek itu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali setelah tersadar akan kekagumannya pada pesona cowok itu.
"Lo pasti-"
"Jadi, kenapa kamu telat dan-" sambar cewek itu cepat.
"Yakin nggak mau tahu nama gue siapa?" sela cowok itu cepat.
"Aku tahu kok. Andromeda Gerardus, kelas 11 di SMA Batavia, lagi naksir-naksirnya sama-"
"Woaah, tahan dulu bagian itu, Kak!" sela Andro panik. "Jangan duluin gue dong untuk bikin pengakuan itu," sambungnya.
Cewek itu tersenyum jail. Kemudian mengangguk pelan. Sembari menunggu Andro memesan minuman, cewek itu berkonsentrasi pada ponselnya. Sekedar membalas puluhan  pesan dari orang-orang yang diganggu cewek itu sembari menunggu Andro tadi.
"Gue abis cek kondisi Ibu sekalian nemenin Gita ngobrol di ruang ICU. Dan, kalau bareng Gita, gue selalu lupa waktu."
"Bukannya kamu benci ruang ICU?"
"Banget," seru Andro lalu meneguk Ice Coffe Americano. "Tapi Gita membuat gue melupakan seluruh hal-hal yang gue benci dalam hidup gue."
"Karena kamu suka sama Gita. Eh, bukan. Kamu sangat menyukai dia."
Andro mengangkat kedua bahunya. "Kita lihat nanti. Tujuan lo menghubungi gue lalu mengajak ketemuan buat cari tahu soal itu, kan?"
Cewek itu mengangguk antusias. "Pertanyaan pertama, apa kamu sadar kamu sudah terlalu banyak berharap?"
"Berharap untuk memiliki Gita sepenuhnya? Gue terlalu ngayal tinggi sih kalau mikirin kemungkinan itu. Soalnya, gue... bukan cowok baik-baik."
"Terus kenapa kamu berani muncul dalam kehidupan Gita?"
"Tekniknya, secara tidak sengaja. Atau menurut penulis takdir, gue sengaja dimunculkan belakangan. Gue harus memanfaatkan waktu kemunculan gue dengan sebaik-baiknya dong."
"Kamu menerima begitu saja hadir belakangan? Yang berpotensi bikin Gita nggak akan menorehkan hatinya sama kamu? Atau jangan-jangan dia suka sama cowok lain?"
"Bisa mengenal dia dan bikin dia tertawa setiap hari udah cukup kok," sahut Andro sambil tersenyum manis.
Cewek itu terkesiap dengan jawaban Andro selama beberapa detik. Kemudian dia menyesap capucinno yang sudah tandas setengah bagian dari cangkirnya. Selain karena kedatangan Andro yang sejak awal di kafe ini sudah menarik perhatian karena ketampanannya, cowok ini hobi sekali menyunggingkan senyum. Siapapun yang melihatnya pasti langsung meleleh karena terpesona.
"Apa dia tahu tentang... ehem... cerita masa lalu kamu yang kelam?"
Kali ini gantian Andro yang tersentak. Mengaduk-aduk gelas yang berisi Ice Coffee Americano dengan gusar. "Dia belum tahu."
"Selama ini kamu membohonginya?"
"Untuk saat ini yang gue pikirkan adalah melindungi dia. Gue nggak tahu kenapa perasaan melindungi ini begitu kuat saat melihat dia setiap hari."
Cewek itu meletakkan pulpennya di atas buku jurnalnya. Kemudian menatap Andro dengan mantap.  "Sepertinya aku nggak perlu menanyakan hal lain lagi. Karena ternyata, aku udah mendengar satu jawaban yang langsung bisa menjawab seluruh daftar pertanyaanku."
Dan, untuk kesekian kalinya Andro tersenyum.

Senin, 08 September 2014

Zero Class #2 : Revelation

TERBIT : 2 OKTOBER 2014
Penulis : Pricillia A.W.
Editor : Dini Novita Sari dan Harriska Adiati
Ilustrasi Cover : Yanagi Yie

Sinopsis : Pertempuran babak kedua dimulai!
Gita optimistis akan memenanginya karena memiliki tiga senjata ampuh: sederet keberhasilan yang diraih pada pertempuran sebelumnya, kekompakan anak 11 IPS 4, serta Nathan yang mulai percaya padanya.
Tapi siapa sangka, gempuran dari kubu musuh makin bertubi-tubi, membuat pertempuran kali ini lebih berliku, memusingkan, dan meninggalkan perih. Guna menjauhkan Gita dari sasaran musuh, Nathan dan Radit memutuskan bekerja sama. Namun, rupanya ada seseorang yang lebih dulu menjaga Gita, seseorang yang berjanji melindungi Gita apa pun risikonya.
Celakanya, banyak korban berjatuhan. Persis setelah serangan terakhir diluncurkan, terkuaklah sepenggal masa lalu yang kemudian memetakan konflik tak masuk akal ini dengan jelas hingga semua orang memikirkan ulang apa yang selama ini mereka musuhi: Terjebak di kelas penuh kesialan atau... Tanpa sadar dimanfaatkan seseorang untuk membalas dendam?

Rabu, 16 Juli 2014

When I Get Stucked...

Holahola readers...
kali ini aku mau cerita tentang hal-hal yang aku lakukan kala stuck menulis.
Pastinya tiap penulis pernah mengalami masa ini. Saat kering ide dan tidak tahu mau menulis apa. Ada yang percaya dengan situasi ini, ada juga yang tidak percaya. Sebagian sih menyebutnya dengan istilah malas.

Kalau menurutku sih, wajar-wajar saja kalau kita merasakannya. Karena aku sendiri pernah merasa begitu. Penyebabnya karena aku stress dengan urusan-urusan di sekitarku, jenuh, lelah setelah seharian dibebani pekerjaan, dan lain-lain.

Bagaimana cara mengatasinya?
hal paling ampuh yang bikin moodku balik lagi sih main sama geng unyuable di rumah. Alias Buddy dan Brownies, 2 anjing tampan dan menggemaskan yang hobi menggelayut manja.
 Kalau memungkinkan sih, sekalian ajak jalan mereka. Palingan sih muterin kompleks rumah aja.  Tapi kalau sudah kelewat malam atau hujan, main-main sama mereka di teras belakang halaman rumah deh. Terutama sih Buddy ya. Usianya 2 tahun lebih muda dari Brownies dan bikin dia mau eksis terus di rumah. Mau diusap-usap dan diajak main terus.
Buddy sukaaaaaaaaa banget main lempar-tangkap tulang. Iya, beneran tulang. Tapi tentu aja tulang sapi loh ya. Selain digerogoti, kadang dijilat, dan terakhir buat main lempar-tangkap. Bagaimanapun kondisi kita, kapanpun waktunya, Buddy selalu ngajak main lempar-tangkap ini.
Terus-terang kadang bikin darting sendiri karena Buddy terus-terusan ajak main di saat aku udah capek,
But, then, he always makes me smile again :)

I really love you guys. I cant imagine life without you...