Kamis, 16 Juni 2016

Not Just a Words

Pernah nggak kalian melihat sesuatu dengan begitu berbinar-binar yang selalu disertai gejala antusias penuh ketika menyaksikannya terlampau lama?

Saya sedang mengalaminya.

Bukan kok, ini bukan membicarakan jatuh cinta sama lawan jenis. Tapi tentang sebuah hal yang membuatmu bahagia, bersemangat, terkadang jenuh ketika melakukannya. Sebuah hal yang dimaksud itu bisa diartikan berbagai macam. Tergantung pada masing-masing individu. Kalau saya pribadi sih, menulis.

Menulis adalah hal yang sangat menyenangkan yang pernah saya lakukan sejauh ini. Di samping bercengkrama dengan keluarga, mencoba ragam kuliner, tertawa riuh bersama sahabat, nonton film, serial barat ataupun drama Korea, bermain dengan anjing-anjing saya, ataupun minum secangkir matcha latte hangat, menulis adalah kegiatan yang membuat saya merasa utuh.

Segila apapun persoalan yang menghimpit saya, sebobrok apapun keadaan jiwa saya, hanya dengan menulis saya bisa sejenak menemukan totalitas diri saya sepenuhnya sebagai seorang manusia.



Entah saya yang sejak dulu tidak pandai bergaul dan cenderung kaku, sehingga hanya memiliki sedikit sahabat. Saya juga jarang mengikuti perkembangan tren yang sedang kekinian. Tak semuanya, hanya sedikit saja yang menurut saya penting. Misalnya, memakai sneakers putih yang sekarang jadi hot fashion item di pertengahan 2016 ini.
Tapi terkadang, cita-cita dan mimpi kita terbentur pada dinding realitas hidup yang begitu keras.

Faktanya saya adalah seorang anak sulung dari dua bersaudara. Adik saya baru saja masuk SMA. Keluarga saya memiliki kemampuan ekonomi yang dapat dikatakan cukup. Kami bisa makan lancar setiap hari, tagihan juga terbayar mudah, tapi memang kami tidak bisa menjalankan hidup seperti kebanyakkan keluarga lain. Misalnya, berlibur ke luar kota dengan sebuah mobil. Menurut kami, itu seperti sebuah kemewahan.
Tapi saya percaya, ada rencana Tuhan yang indah yang membuat saya lahir di tengah keluarga yang begitu hangat ini :)

Intinya saya adalah tulang punggung keluarga. Papa saya memiliki pekerjaan yang penghasilannya tidak menentu setiap bulan, sementara Mama adalah seorang ibu rumah tangga. Sudah sangat jelas bukan, bahwa sebagai anak pertama yang sudah dibekali kemampuan sudah waktunya saya ikut andil bertanggung-jawab berbakti bagi keluarga saya.

Jujur saja, perkara itu terkadang bikin migrain saya kambuh. Saya merasa belum siap dibebani tanggung jawab sebesar itu di pundak saya. Masih ada daftar ha-hal menyenangkan, yang belum sempat saya lakukan. Pada akhirnya dengan melewati sederet kejadian pendewasan diri, juga tuntunan serta penyertaan Tuhan, kemudian saya sadar bahwa ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan pada hidup saya. Tuhan telah merancang kapasitas yang tepat untuk saya mendapat beban juga berkat pada akhirnya dengan takaran yang tepat.

Anyways...
Sepanjang saya menjalani hidup saya selama ini, ujung-ujungnya saya menemukan ketenangan ketika menulis. Mungkin sekarang saya terdengar gegabah. Atau banyak yang mencibir bahwa saya melewatkan banyak peluang, seperti dugaan beberapa orang bahwa saya terlampau menikmati zona nyaman ketika saya memprokamirkan keinginan saya menjadi penulis seutuhnya. Menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama saya.
Pekerjaan ini menghasilkan kok. Memang tidak sebesar pekerjaan teman-teman saya yang setiap bulan menghasilkan sejumlah angka tetap pada rekening mereka. Pekerjaan ini murni mengandalkan kreativitas.

Sekarang PR yang harus kerjakan adalah menempa diri lebih giat lagi sekaligus membuktikan pada keluarga saya bahwa dengan pekerjaan ini saya tidak akan meninggalkan tanggung jawab saya, menghidupi keluarga. Toh di beberapa pekerjaan sebelumnya saya sudah memperlihatkan bahwa saya tidak mampu mempertanggung-jawabkan seutuhnya hingga lama.

Ini mungkin menjadi pertanda bahwa sejak awal Tuhan yang memang menuntun saya hingga seperti ini. Saya belajar untuk tidak mempedulikan cibiran maupun kata-kata orang lain. Karena sekarang yang saya pedulikan adalah Tuhan juga keluarga saya.

Harapan saya nggak banyak. Hanya semoga saya bisa mempertanggung-jawabkan niat baik saya ini hingga membuat kedua orang tua saya bangga.

0 komentar:

Posting Komentar