TERBIT : 2 OKTOBER 2014
Penulis : Pricillia A.W.
Editor : Dini Novita Sari dan Harriska Adiati
Ilustrasi Cover : Yanagi Yie
Sinopsis : Pertempuran babak kedua dimulai!
Gita optimistis akan memenanginya karena memiliki tiga senjata ampuh: sederet keberhasilan yang diraih pada pertempuran sebelumnya, kekompakan anak 11 IPS 4, serta Nathan yang mulai percaya padanya.
Tapi siapa sangka, gempuran dari kubu musuh makin bertubi-tubi, membuat pertempuran kali ini lebih berliku, memusingkan, dan meninggalkan perih. Guna menjauhkan Gita dari sasaran musuh, Nathan dan Radit memutuskan bekerja sama. Namun, rupanya ada seseorang yang lebih dulu menjaga Gita, seseorang yang berjanji melindungi Gita apa pun risikonya.
Celakanya, banyak korban berjatuhan. Persis setelah serangan terakhir diluncurkan, terkuaklah sepenggal masa lalu yang kemudian memetakan konflik tak masuk akal ini dengan jelas hingga semua orang memikirkan ulang apa yang selama ini mereka musuhi: Terjebak di kelas penuh kesialan atau... Tanpa sadar dimanfaatkan seseorang untuk membalas dendam?
Senin, 08 September 2014
Rabu, 16 Juli 2014
When I Get Stucked...
Holahola readers...
kali ini aku mau cerita tentang hal-hal yang aku lakukan kala stuck menulis.
Pastinya tiap penulis pernah mengalami masa ini. Saat kering ide dan tidak tahu mau menulis apa. Ada yang percaya dengan situasi ini, ada juga yang tidak percaya. Sebagian sih menyebutnya dengan istilah malas.
Kalau menurutku sih, wajar-wajar saja kalau kita merasakannya. Karena aku sendiri pernah merasa begitu. Penyebabnya karena aku stress dengan urusan-urusan di sekitarku, jenuh, lelah setelah seharian dibebani pekerjaan, dan lain-lain.
Bagaimana cara mengatasinya?
hal paling ampuh yang bikin moodku balik lagi sih main sama geng unyuable di rumah. Alias Buddy dan Brownies, 2 anjing tampan dan menggemaskan yang hobi menggelayut manja.
Kalau memungkinkan sih, sekalian ajak jalan mereka. Palingan sih muterin kompleks rumah aja. Tapi kalau sudah kelewat malam atau hujan, main-main sama mereka di teras belakang halaman rumah deh. Terutama sih Buddy ya. Usianya 2 tahun lebih muda dari Brownies dan bikin dia mau eksis terus di rumah. Mau diusap-usap dan diajak main terus.
Buddy sukaaaaaaaaa banget main lempar-tangkap tulang. Iya, beneran tulang. Tapi tentu aja tulang sapi loh ya. Selain digerogoti, kadang dijilat, dan terakhir buat main lempar-tangkap. Bagaimanapun kondisi kita, kapanpun waktunya, Buddy selalu ngajak main lempar-tangkap ini.
Terus-terang kadang bikin darting sendiri karena Buddy terus-terusan ajak main di saat aku udah capek,
But, then, he always makes me smile again :)
kali ini aku mau cerita tentang hal-hal yang aku lakukan kala stuck menulis.
Pastinya tiap penulis pernah mengalami masa ini. Saat kering ide dan tidak tahu mau menulis apa. Ada yang percaya dengan situasi ini, ada juga yang tidak percaya. Sebagian sih menyebutnya dengan istilah malas.
Kalau menurutku sih, wajar-wajar saja kalau kita merasakannya. Karena aku sendiri pernah merasa begitu. Penyebabnya karena aku stress dengan urusan-urusan di sekitarku, jenuh, lelah setelah seharian dibebani pekerjaan, dan lain-lain.
Bagaimana cara mengatasinya?
hal paling ampuh yang bikin moodku balik lagi sih main sama geng unyuable di rumah. Alias Buddy dan Brownies, 2 anjing tampan dan menggemaskan yang hobi menggelayut manja.
Kalau memungkinkan sih, sekalian ajak jalan mereka. Palingan sih muterin kompleks rumah aja. Tapi kalau sudah kelewat malam atau hujan, main-main sama mereka di teras belakang halaman rumah deh. Terutama sih Buddy ya. Usianya 2 tahun lebih muda dari Brownies dan bikin dia mau eksis terus di rumah. Mau diusap-usap dan diajak main terus.
Buddy sukaaaaaaaaa banget main lempar-tangkap tulang. Iya, beneran tulang. Tapi tentu aja tulang sapi loh ya. Selain digerogoti, kadang dijilat, dan terakhir buat main lempar-tangkap. Bagaimanapun kondisi kita, kapanpun waktunya, Buddy selalu ngajak main lempar-tangkap ini.
Terus-terang kadang bikin darting sendiri karena Buddy terus-terusan ajak main di saat aku udah capek,
But, then, he always makes me smile again :)
I really love you guys. I cant imagine life without you...
Minggu, 30 Maret 2014
Happy 22!
Its been a looooong time for the last post.
iya, saya tahu. Ini kalimat basa-basi yang selalu membuka postingan blog saya. Nggak percaya? boleh dilihat dan dicek dari postingan sebelumnya. (Ngarep banget diperhatiin)
bisa dibilang malahan ini adalah postingan pertama saya di tahun 2014 ini.
well tahun baru, dan baru genap seminggu lebih sehari saya menapai usia baru. 22 tahun. usia yang banyak dibilang masa peralihan dari remaja akhir menuju dewasa. Well, saya nggak begitu paham mengenai tahapan-tahapan usia yang dikategorikan sebagai remaja. Tapi entah mengapa semenjak menapaki usia baru ini atau beberapa bulan sebelumnya, saya merasa pola pikir saya berubah. tentang bagaimana menyikapi dunia, memikirkan masa depan, target jangka panjang yang tiap hari memacu saya buat lebih sering berkarya, dan banyak hal lainnya.
Banyak yang berpendapat bahwa hal yang membedakan anak kecil dan orang dewasa adalah bagaimana tingkat keseriusan memandang dan menjalani hidup. Semakin dewasa, kita makin sadar kebutuhan kian meningkat. Lalu kemudian memutar otak untuk membuat kebutuhan itu terus terpenuhi. Saya merasa sudah masuk fase ini. Semenjak bisa menghasilkan pundi-pundi sendiri, lambat-laun saya mulai berpikir bagaimana baiknya untuk mandiri dan lepas dari sokongan orang tua.
apa saya terlalu cepat memikirkan hal-hal rumit seperti ini?
I mean,
di saat teman-teman sejawat saya nemplok dari satu cafe, ke cafe satunya hanya untuk sekedar minum karena haus atau mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ramai-ramai ikutan tren foodporn dengan "memamerkan" nya di media sosial seperti Instagram dan Path. Lalu berganti gadget baru mengikuti tren. Dan hmm yang sering sekali dilakukan teman segeng saya nongkrong berlama-lama di mal.
mungkin saya memang anak rumahan. Atau dalam kamus anak-anak populer: "kutu buku kelas berat"
Saya pribadi tak terlalu peduli dengan julukan apapun, Karena prinsip saya, setiap hal apapun yang terjadi selalu ada waktu yang tepat. Saya suka nongkrong dan ngobrol. Minum kopi di cafe, lalu memposting makanan di jejaring sosial. Tapi tak setiap hari saya lakukan, sehingga cenderung mencondong jadi gaya hidup.
Saya merasa tidak kehilangan masa muda. Justru dengan keputusan saya menjadi anak rumahan yang benci dengan gemerlap keramaian, saya dapat berkarya secara positif.
Bicara soal itu, saya punya kisah menarik soal idola saya, Taylor Swift.
Siapa yang sekarang nggak kenal sama artis cantik langganan nongkrong di nominasi Grammy itu. Lagu-lagunya menghiasi tangga lagu dunia. Lalu, punya selusin (mungkin lebih atau kurang) mantan yang aduhai-luar-biasa-perfect. ada Harry Styles, Joe Jonas, Taylor Lautner, dsbnya, dsbnya hihi
Rupaya waktu Tay masih SMP, dia termaksud anak cupu yang nggak pernah dapat undangan pesta. Jadi, di saat teman-temannya pada asyik pesta sana-sini dengan happy, Tay malah mendem di rumahnya. Mendalami hobinya main gitar. Bahkan dia menciptakan lagu, yang sekarang banyak didengar banyak orang.
Coba kalau dulu Tay bergabung dalam pesta-pesta itu. Pastinya dia nggak akan semassive seperti sekarang ini, kan?
Nggak heran deh kenapa saya makiiin cinta sama Taylor Swift. Selain lagu-lagunya yang easy listening, lirik yang menyindir dengan lucu, kisah hidupnya inspiratif sekali.
Pas banget lagi Tay punya lagu yang judulnya '22'.
Kalau boleh geer nih, tiap denger lagu ini saya selalu ngerasa Tay nyanyiin khusus buat saya. ecieehh hihi Habis ngepas banget sama tanggal ultah saya, 22 maret. dan angka 2 itu memang angka favorit dan keberuntungan saya.
Happy 22. Semoga Tuhan semakin melimpahkan hikmat dan berkat di umur baru saya ini^^
Label:
Curcol,
Journal,
Just Sharing,
kisah hidup,
Wejangan mode
Senin, 02 September 2013
Soundtrack Of This Months
Sherina - Pergilah Kau
Pada semua kasih sayangmu
Tak mau lagi aku tersentuh
Pada semua pengakuanmu
#
Kamu takkan mengerti rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu
Reff:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui
Tak mau lagi aku terjerat
Pada semua janji-janjimu
Tak mau lagi aku terkait
Pada semua permainanmu
Back to #, Reff
Bertahun-tahun bersama
Kupercayaimu
Kubanggakan kamu
Berikan s’galanya
Aku tak mau lagi
Ku tak mau lagi huoo… Yeee…Hee…
Back to Reff
Pergilah kau
Tak ingin kutahui
Pergilah kau
Ku tahui
*okay, the Italic one represent the conditions that i won't involve again *wink*
Label:
Curcol,
Journal,
Just Sharing,
kisah hidup,
Lyrics
Kamis, 22 Agustus 2013
Kuis Giveaways Since We Meet
Holaaaa readers! Ketemu lagi nih di kuis giveaways novelku. Maaf yaa baru sempat kabarin sekarang, sibuk mikirin kuisnya kayak apa sih hehehe *sedikit curcol*
Karena novel terbaruku ini kental sama nuansa kekompakkan sahabat, aku bakalan kasih yang menyerempet soal itu.
Kuis kali ini simple kok. Modalnya cuma twitter aja. Pasti pada punya akun twitter kan?
Kalian lanjutkan kalimat ini "Aku tanpa sahabat itu...." dan mention ke @priciltasia dan @GradienBuzzers dengan hastag #GiveawaysSWM
Contoh: Aku tanpa sahabat kayak remot tanpa batere. Gak bisa tetep 'hidup' @priciltasia @GradienBuzzers #giveawaysSWM
Syarat ikutan kuis ini follow @GradienBuzzers dulu yaa. 1 orang hanya boleh 1 tweet dengan format yang sudah aku kasih tahu. Kalau enggak sesuai, sori yaa bakalan aku diskualifikasi^^
Periode tweet sampai tgl 26 Agustus 2013 jam 23:59 yaaahh
Good luck then!
Karena novel terbaruku ini kental sama nuansa kekompakkan sahabat, aku bakalan kasih yang menyerempet soal itu.
Kuis kali ini simple kok. Modalnya cuma twitter aja. Pasti pada punya akun twitter kan?
Kalian lanjutkan kalimat ini "Aku tanpa sahabat itu...." dan mention ke @priciltasia dan @GradienBuzzers dengan hastag #GiveawaysSWM
Contoh: Aku tanpa sahabat kayak remot tanpa batere. Gak bisa tetep 'hidup' @priciltasia @GradienBuzzers #giveawaysSWM
Syarat ikutan kuis ini follow @GradienBuzzers dulu yaa. 1 orang hanya boleh 1 tweet dengan format yang sudah aku kasih tahu. Kalau enggak sesuai, sori yaa bakalan aku diskualifikasi^^
Periode tweet sampai tgl 26 Agustus 2013 jam 23:59 yaaahh
Good luck then!
Kamis, 25 Juli 2013
Since We Meet
Hola pembaca, lama banget sejak postinganku terakhir di blog ini. Selain malas, penulisnya lagi "dicekik" banget sama tetek-bengek urusan mahasiswa akhir. Pertama, bikin CV, form magang, sampai akhirnya sibuk magang di majalah remaja dan terakhir, sibuk ngurusin masalah skripsi.
Well, semua "bagian yang enggak enak" itu akhirnya terbang melambung ke awan-awan, tergantikan sebuah kabar gembira.
Yapsss, finally aku bisa "lahiran" anak ketiga, alias novel ketiga.
Judul : Since We Meet
Genre: Teens, TeenLit
Penerbit: Gradien Mediatama
Editor: Agni Gari
Harga : Rp 45.000 ,-
Sinopsis:
Ini kisah tentang Freiya, Timothy, Kelcia, Hansel, Reisha, dan Rainer. Mereka bertemu, berinteraksi, dan menjalin ikatan persahabatan karena berasal dari sekolah yang sama dan diikat lekat dengan kehadiran grup band yang mereka bangun bersama (eXXo band) yang sedang menapaki jenjang untuk eksis
Pergulatan hidup dan pergumulan cinta kemudian hadir di tengah-tengah mereka, menguji kekuatan ikatan persahabatan yang telah mereka bangun. Dalam perjalanan ini, mereka belajar tentang makna hidup, makna memberi, makna saling memahami dan kesetiakawanan untuk saling menegur dan meneguhkan.
Pada akhirnya setiap orang belajar untuk bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang lebih dewasa dalam setiap aspek. Bukan sekadar mendamaikan pergesekan antara persahabatan vs cinta dan dinamika kedua.
#SWM ini udah beredar di toko buku, jadi buruan dicari yaa^^
Well, semua "bagian yang enggak enak" itu akhirnya terbang melambung ke awan-awan, tergantikan sebuah kabar gembira.
Yapsss, finally aku bisa "lahiran" anak ketiga, alias novel ketiga.
Judul : Since We Meet
Genre: Teens, TeenLit
Penerbit: Gradien Mediatama
Editor: Agni Gari
Harga : Rp 45.000 ,-
Sinopsis:
Ini kisah tentang Freiya, Timothy, Kelcia, Hansel, Reisha, dan Rainer. Mereka bertemu, berinteraksi, dan menjalin ikatan persahabatan karena berasal dari sekolah yang sama dan diikat lekat dengan kehadiran grup band yang mereka bangun bersama (eXXo band) yang sedang menapaki jenjang untuk eksis
Pergulatan hidup dan pergumulan cinta kemudian hadir di tengah-tengah mereka, menguji kekuatan ikatan persahabatan yang telah mereka bangun. Dalam perjalanan ini, mereka belajar tentang makna hidup, makna memberi, makna saling memahami dan kesetiakawanan untuk saling menegur dan meneguhkan.
Pada akhirnya setiap orang belajar untuk bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang lebih dewasa dalam setiap aspek. Bukan sekadar mendamaikan pergesekan antara persahabatan vs cinta dan dinamika kedua.
#SWM ini udah beredar di toko buku, jadi buruan dicari yaa^^
Label:
About novels,
Curcol,
Journal
Minggu, 17 Februari 2013
Asal-Muasal Pintu Imajinasi Itu Terbuka
Mendadak,
dalam pikiran saya menyeruak sebuah perasaan kangen masa kecil dulu. Waktu saya
masih kelas 1 SD dan hobi banget setiap minggu meminjam buku-buku dongeng dari
perpustakaan sekolah. Saya merasa beruntung, dulu orang tua mengirim saya ke
sebuah sekolah swasta yang memiliki fasilitas perpustakaan yang terbilang,
super-duper keren. Banyak rak yang dijejali bejibun-bejibun buku di samping
buku pengetahuan, pelajaran, novel, daaaaaan buku cerita dongeng serta novel-novel
yang menurut saya unik banget waktu itu. Setiap hari saya berkunjung ke
perpustakaan sekedar untuk membaca puluhan buku yang menarik perhatian saya.
Soalnya waktu itu tiap murid hanya dibatasi meminjam 1 buku saja dengan kurun
waktu seminggu. Kalau sebelum waktunya dikembalikan, boleh untuk meminjam lagi.
Nah, karena
waktu itu banyaaaaaaaak banget yang mau saya baca, alhasil saya sering
nyolong-nyolong waktu ke Perpus buat baca di sana (masih kecil aja udah ngerti
bolos pelajaran hihi). Dan saya salah satu orang yang paling jejingkrakan kalau
tiba-tiba ada pelajaran yang lokasinya dipindahkan ke Perpus. Bukannya
mendengarkan penjelasan guru, mata saya malah jelalatan berkeliling Perpus
untuk mengira-ngira, rak buku apa yang nanti akan saya jelajahi.
Masa kecil
saya diisi dengan cerita-cerita Tiga Ekor Babi yang Melawan Serigala, Puteri
Duyung, Hansel dan Gretel, Gadis Korek Api, Cinderella, Puteri Salju, Gadis
Berkerudung Merah, dan lain-lain. Awalnya saya tertarik dengan buku-buku itu
karena begitu menggiurkan melihat ilustrasi gambarnya yang berwarna-warni. Plus,
Mama yang selalu mendorong saya untuk belajar banyak dari buku-buku itu. Sejak
saat itu... saya cinta mati sama buku dan cerita. Ketika saya kelas 3 SD, saya
mulai kenal dengan Enid Blyton. Kisah detektif anak-anak yang mengungkap
misteri. Saat membaca cerita itu, saya selalu merasa seolah-olah saya menjadi
bagian dari tim Lima Sekawan yakni; Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy. Saat
meminjam buku itu pertama kali, dahi saya sering mengernyit bingung lantaran
tak mengerti beberapa bagian ceritanya. Lalu, Mama menjelaskan pelan-pelan
ketika saya melontarkan pertanyaan. Sehingga, pelan-pelan saya mulai mengerti
dengan berbagai istilah asing. Saya
mulai mengerti kalau dunia luar tak melulu hanya ada “orang baik” saja. Ada
“orang jahat” yang diwaspadai.
Kegemaran
membaca saya makin meningkat. Tak hanya di novel dan cerita Lima Sekawan, ada
buku-buku lainnya (saking banyaknya, sampai lupa pernah baca apa aja).
Buku-buku itu layaknya “kunci” yang membukakan Pintu Imajinasi, yang sekarang
menjadi modal utama saya sebagai Penulis.
Mulai kelas
5 SD, karena saat itu komik sedang menjamur, saya mulai membaca komik. Dan,
saya mengenal soal romatisme cinta dari komik Salad Days. Lewat itu saya
semakin sering menciptakan kisah imajinasi yang muncul seperti film yang
berputar dalam otak saya. Lalu, ketika Mama menghadiahkan saya sebuah buku
kumpulan dongeng terbaik Hans Christian Andersen, saya girang bukan main.
Rasanya seperti ada yang bergemuruh dalam hati. Suatu hari saya mesti bisa
menuliskan kisah imajinasi saya sendiri.
Kemudian,
ketika saya kelas 1 SMP, saya mulai mengenal novel TeenLit. Saya juga membaca
cerita cantik, kisah pendek dengan tokoh-tokoh orang Jepang. Baca novelpun
oper-operan dengan teman sekelas saya yang update banget mengoleksi novel
keluaran terbaru. Hingga akhirnya ada seorang teman di kelas yang menulis novel
di kertas, kemudian diedarkan sekelas untuk dibaca. Seperti novel yang biasanya
digilir baca oleh kami. Melihat dia, saya jadi ikut-ikutan mau nyoba. Sampai
akhirnya jadi deh 100 halaman novel, ditulis oleh tangan saya sendiri di kertas
organizer (ini asli, sampai sekarang masih saya simpan di dalam laci lemari).
Rasa lelah dan pegal rasanya terbayar saat melihat kedua sahabat saya yang
waktu itu kedapatan tugas jadi pembaca pertama dan mengatakan, “Cil, cerita
yang kamu bikin itu seru banget!”
Well, jujur
waktu itu saya menuliskan cerita dengan tokoh utama saya sendiri. Bersama
dengan dua sahabat saya itu. Saat itu saya lagi naksir-naksirnya sama seorang
kakak kelas charming. Karena nggak punya cara buat kenalan, alhasil menulis
menjadi media saya membuat cerita sendiri tentang kisah saya dan dia. Sering
banget berharap cerita yang saat itu saya tulis bisa jadi kenyataan.
Saya bersyukur
bisa mengenal Hans Christian Andersen dan Enid Blyton. Sebetulnya, Mama yang
dulunya bekerja sebagai “mediator” mengenalkan saya kepada maha karya kedua
tokoh legendaris itu. Mama yang menyediakan saya petunjuk untuk saya menemukan
“kunci” pembuka pintu imajinasi itu.
Saya juga
bahagia, karena semasa saya sekolah dari mulai SD, SMP, SMA, bahkan sampai
kuliah selalu ditemani dengan fasilitas perpustakaan yang bener-bener lengkap,
keren, dan bikin kalap. Terlebih masa-masa di mana saya masih berseragam dulu.
Bahkan saat SMA, saya akrab dengan penjaga perpustakaan. Dan didaulat untuk
bertugas merekomendasi buku-buku apa yang akan dibeli Perpustakaan dan masuk
menjadi koleksinya. Ah, betapa bahagianya saya kala itu...
Dan
sekarang, saat akhirnya bisa menjadi penulis, kadangkala saya masih suka enggak
percaya sendiri. Melihat novel saya bertengger manis di salah satu rak dalam
toko buku atau melihat langsung orang yang membeli novel saya di toko buku.
Walau perjalanan saya masih panjang dan masih jauh disandingkan dua “Dewa”
(yakni dua penulis favorit saya, Hans Christian Andersen dan Enid Blyton), ada
keinginan dalam hati saya ingin menjadi seperti mereka. Menjadi “kunci” pembuka
Pintu Imajinasi bagi calon penulis lainnya. Jadi, saran saya kalau memang mau
jadi penulis syarat mutlak yang harus dimiliki harus lebih banyak kalap sama
buku ketimbang yang lain (asal jangan bela-belain bolos jam pelajaran cuma buat
nongkrong di Perpus kaya saya hihi).
Label:
About novels,
Behind the scenes,
Journal,
kisah hidup,
Wejangan mode
Langganan:
Postingan (Atom)

